Free INDONESIA Cursors at www.totallyfreecursors.com

Selasa, Maret 27, 2012

Intubasi a.k.a Memasang Selang Nafas (ETT)


 Pernah besuk (atau bezuk?) seseorang di ICU? pernah lihat yang namanya selang nafas? nah, itu yang akan kita bahas sedikit disini.
Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea, orang awam sering sebut sebagai selang nafas, ke dalam trakea melalui rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira pada pertengahan antara pita suara dan bifurkasio trakea.
Alat
Sebelum melakukan tindakan intubasi trakea, ada beberapa alat yang perlu disiapkan yang disingkat dengan STATICS.
1. S = Scope   
Yang dimaksud scope di sini adalah stetoskop dan laringoskop. Stestoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung serta laringoskop untuk melihat laring secara langsung sehingga bisa memasukkan pipa trake dengan baik dan benar. Secara garis besar, dikenal dua macam laringoskop:
a. Bilah/daun/blade lurus (Miller, Magill) untuk bayi-anak-dewasa.
b. Bilah lengkung (Macintosh) untuk anak besar-dewasa.
Pilih bilah sesuai dengan usia pasien. Yang perlu diperhatikan lagi adalah lampu pada laringoskop harus cukup terang sehingga laring jelas terlihat.

Secondary Tumor


Tumor sekunder adalah tumor yang terbentuk sebagai akibat dari penyebaran kanker (metastasis) dari tempatnya memulai. Metastasis suatu sel tumor berlangsung secara spesifik, tidak semua tumor dapat tumbuh di lokasi tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
  1. Letak dari tumor primer
  2. Adanya ekspresi dari gen sel tumor mengenai tipe molekul reseptor yang mampu ditangkap oleh lokasi tertentu
Pada dasarnya, penyebaran sel tumor melalui 5 cara:
  1. Penyebaran perkontinuitatum: Sel /jaringan kanker menyusup keluar dari organ tempat tumbuhnya, kemudian masuk kedalam organ /struktur disekitarnya.
  2. Penyebaran Limfogen: Sel kanker masuk ke saluran limfe, ikut aliran limfe dan menimbulkan metastasis di kelenjer getah bening regional. Sel kanker juga mengadakan infiltrasi dengan struktur sekitarnya sehingga terjadi perlengketan dan membentuk paket.(konglomerasi).
  3. Penyebaran Hematogen: Sel kanker menyusup ke kapiler darah, masuk pembuluh darah, vena sampai keorgan tubuh lainya, lalu sel kanker tumbuh disana, menjadi tumor baru, merupakan anak sebar, letaknya jauh dari tumor primer.(distance metastasis). Penyebaran hematogen dapat mengenai: Hati Paru, Pleura,Tulang, Kulit, Otak dll.
  4. Penyebaran Transluminal: Terjadi dalam saluran, seperti melaui saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan saluran kemih. Sel lepas kedalam kedalam lumen kemudian tertanam pada satu tempat, lalu mengalami implantasi. Hal serupa juga bisa terjadi dalam rongga tubuh, misal: Rongga Peritonium dan rongga pleura.
Hampir tidak ada orang yang dapat bebas dari kontak dengan karsinogen tetapi tidak semua orang mendapat kanker. Ada golongan masyarakat tertentu yang lebih mudah mendapat kanker dari golongan

Minggu, Januari 15, 2012

Disfungsi dan Disabilitas Seksual (Randall-Braddom)

Seksualitas merupakan salah satu dari aspek yang paling rumit dari kehidupan manusia dengan berbagai macam pengaruh organik dan psikososialnya. Merupakan sebuah topik yang sulit untuk didiskusikan dalam kantor seorang dokter. Seringkali memunculkan perasaan malu dan ketidaknyamanan dari pasien dan praktisi, namun merupakan satu dari determinan terpenting dari kualitas hidup. Disabilitas seringkali mengakibatkan efek dramatis yang negatif dalam fungsi seksual, namun tidak merubah atau mengganggu kebutuhan manusia akan kedekatan, pasangan, dan kepuasan fisik yang seksualitas bisa berikan. Psikiater yang memiliki keberanian dan pengetahuan untuk secara terbuka menyampaikan masalah disfungsi seksual dengan pasien akan bisa memperkaya kehidupannya dengan skala yang tidak bisa diukur.

Sindrome Post Polio

Alih Bahasa oleh:
Hendra Nopriansyah
04104705327
Dokter Muda Neurologi
FK UNSRI / RS dr. A.K Gani Palembang

Abstrak
Latar belakang sindrom pos polio adalah sekumpulan gejala kelemahan, atropi, nyeri, dan kelelahan otot yang tiba-tiba atau semakin meningkat yang terjadi beberapa tahun setelah menderita polio akut.

Tujuan untuk mempersiapkan criteria diagnostic untuk PPS dan untuk mengevaluasi terapi yang sudah ada.

Metode medline, EMBASE dan ISI database dicari. Kemudian consensus dalam grup dicapai setelah diskusi melalui email.

Kami merekomendasikan definisi Halsted sebagai criteria diagnostic. Supervise, senam aerobic, isokinetik dan isometric adalah cara yang aman dan efektif untuk mencegah penurunan fungsi pada pasien dengan kelemahan moderat. Latihan otot juga bisa meningkatkan kelelahan, lkelemahan dan nyeri otot. Latihan di cuacapanas dan olahraga air non-renang bisa sangat berguna. Latihan otot-otot pernafasan bisa meningkatkan fungsi pernafasan. Pengenalan gangguan pernafasan dan penanganan segera dapat mencegah atau memperlambat penurunan pernafasan lebih lanjut dan pernafasan bantu invasive. Latihan berkelompok follow-up teratur dan edukasi pasien dapat berguna untuk staus mental dan kebiasaan pasien. Beberapa studi control untuk penanganan telah selesai dilakukan, tetapi tidak ada efek terapetik yang dilaporkan untuk evaluasi. Untuk itu, perlu dilakukan studi untuk mengevaluasi efek latihan otot jangka panjang pada pasien PPS.

Tujuan
Tujuan studi ini adalah untuk mengembangkan definisi PPS dan mengevaluasi efektivitas terapi intervensi yang ada dan dijadikan dasar dalam tuntunan management pasien PPS

Latar Belakang
Banyak pasien mengalami kelemahan, atropi, kelelahan, dan nyeri otot beberapa tahun seteah menderita paralisis poliomyelitis. Jumlah penderita pernah dilaporkan oleh Raymond pada tahun 1857.
Iastilah PPS dikenalkan oleh halstead pada tahun 1985 untuk menjelaskan masalah langsung atau tidak langsung dari kecacatan yang terjadi beberapa tahun setelah episode akut polio. Criteria untuk PPS adalah sebagai berikut:

Tonsilofaringitis Akut

Batasan : Peradangan pada dinding faring dan tonsil yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, trauma, toksin, dan lain-lain yang bersifat akut.
Klasifikasi:
a.       TFA Viral
Sign dan Symptom:
Demam disertai ronorea, mual, nyeri tenggorok, dan sulit menelan. Pada pemeriksaan fisik tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxsachievirus dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxachievirus dapat menimbulkan lesi vesicular dan lesi kulit berupa maculopapular rash.
            Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis juga menimbulkan gejala konjungtivitis pada anak. EBV menyebabkan faringitis yang disertai produsi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.