Free INDONESIA Cursors at www.totallyfreecursors.com

Selasa, Mei 01, 2012

Patofisiologi Komplikasi Diabetes Mellitus


               
               Jaringan kardiovaskular mempunyai kemampuan khusus untuk memasukkan glukosa dari lingkungan sekitar ke dalam sel. Namun, pada keadaan hiperglikemia kronik, down regulation tidak cukup terjadi sehingga sel akan kebanjiran masuknya glukosa.
                Hiperglisolia kronik akan mengubah homeostasis biokimia sel tersebut yang kemudian berpotenmsi untuk terjadinya perubahan dasar terbentuknya komplikasi kronik diabetes. Komplikasi tersebut melalui beberapa jalur biokimiawi seperti jalur reduktase aldosa, jalur stress oksidatif, jalur pleiotropik protein kinase C.
                Pada jalur redukatase aldosa, glukosa akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan diubah menjadi fruktosa oleh sorbitol dehidrogenase dengan memanfaatkan nikotinamid adenine dinukleotida. Penumpukan sorbitol dan fruktosa akan terjadi karena kedua zat ini bersifat hidrofilik sehingga penetrasi melalui membran sel berkurang. Sebagai akibatnya, maka poliol akan terakumulasi di dalam intrasel sehingg sel akan mengalami swelling dan pada vaskular akan terjadi kerusakan endotel yang akan menurunkan produksi NO.

Jadwal Imunisasi IDAI dan Dep. Kesehatan RI

 Jadwal Imunisasi Anak IDAI



Jadwal Imunisasi Departemen Kesehatan RI

Senin, April 30, 2012

Alur Cara Diagnosa TB Paru

Alur Diagnosa TB Paru

Sumber: Tuberkulosis, Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan di Indonesia (PDPI)


Jangan Mau Jadi Dokter Umum


Orang Bodoh yang Disebut Dokter Umum

Di mata masyarakat awam, sejak dulu sampai sekarang, selalu ada persepsi bahwa menjadi dokter itu enak karena akan mapan secara ekonomi. Mungkin itu yang berlaku jika sudah menjadiseorang dokter spesialis. Tapi apakah hal demikian juga berlaku bagi para dokter umum?

Marilah kita lihat perjalanan seseorang untuk menjadi dokter umum. Ketika tamat SMU, untuk masuk fakultas kedokteran maka orangtua calon mahasiswa FK harus menyiapkan biaya mulai dari uang masuk yang besarnya puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, kemudian uang semesteran dan lain-lain yang besarnya jutaan rupiah per semester. Belum lagi uang untuk membeli textbook yang umumnya impor ataupun terjemahan dengan harga yang dari puluhan ribu hingga jutaan (atlas anatomi Sobotta sekitar 1,2 - 1,4 juta/set) serta uang untuk membeli peralatan kedokteran yang standar (stetoskop, palu reflek). Lalu ketika menjalani kepaniteraan klinik/ masa co ass/ magang di RS pendidikan, maka masih dikenakan pula biaya untuk magang, seperti yang sempat dihebohkan adalah di Sulawesi Selatan karena diminta sebesar Rp. 60.000/minggu. Itu semua belum termasuk biaya hidup selama menempuh pendidikan yang lamanya sekitar 5-6 tahun.

Rabu, April 25, 2012

Otitis Media alias Congek / Curek

          
A. Otitis Media Akut
          Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesiva.
           Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani. Pada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga tengah. Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas pada membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore.
           Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non- patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit.
           Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius, menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya. Dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus (Buchman, 2003).
           Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin, ras, faktor genetik, status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula, lingkungan merokok, kontak dengan anak lain, abnormalitas kraniofasialis kongenital, status imunologi, infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas, disfungsi tuba Eustachius, inmatur tuba Eustachius dan lain-lain.
           Faktor umur juga berperan dalam terjadinya OMA. Peningkatan insidens OMA pada baydan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang atau imatur tuba Eustachius. Selain itu, sistem pertahanan tubuh atau status imunologi anak juga masih rendah. Insidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan.